Senin, 03 Maret 2014

Chapter III: Values, Attitudes, And Job Satisfication

UNIVERSITAS KRISTEN PETRA





DISUSUN OLEH:
ANDY DWI HARDI     31412112
ALVIN KUSUMA         314
LIE LORENZO    31412106
EDO KURNIAWAN 31412211


Dalam bab ini, kita akan membahas tentang bagaimana nilai telah berubah dari generasi ke generasi dan apa arti perubahan ini untuk mengelola sumber daya manusia dari berbagai usia. Kita juga akan membahas penelitian dengan topik sikap, menjelaskan hubungan antara sikap dan perilaku, dan melihat faktor-faktor yang membentuk kepuasan karyawan akan pekerjaan mereka.

VALUES (NILAI)
·         Nilai mewakili keyakinan dasar yang menyatakan bahwa “suatu bentuk tindakan atau keadaan tertentu dianggap lebih baik secara personal atau sosial, dibandingkan dengan tindakan atau keadaan lain yang sebaliknya.”
·         Nilai mengandung ide seseorang atas apa yang benar, baik, atau diinginkan.
·         Atribut:
o   Konten           : menyatakan bahwa suatu tindakan atau keadaan tertentu adalah penting
o   Intensitas        : menjelaskan seberapa penting tindakan atau keadaan tersebut
·         Sistem nilai: adalah ketika kita mengurutkan nilai seseorang dalam hal intensitasnya. Kita semua memiliki hierarki nilai yang membentuk sistem nilai kita. Sistem ini ditentukan oleh bagaimana kita menentukan derajat kepentingan dari nilai-nilai kita seperti kebebasan, kenikmatan, penghormatan diri, kejujuran, kepatuhan, dan kesamaan.
·         Pada umumnya nilai bersifat tetap dan bertahan lama. Ini disebabkan karena sebagian nilai yang kita anut diajarkan oleh orang tua kita ketika kita masih kecil. Pengajaran ini bersifat absolut dan tidak dapat dibantah. Kita memang dapat mempertanyakan keyakinan kita akan nilai-nilai tersebut. Dan pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat menyebabkan perubahan, namun seringkali malah memperkuat nilai-nilai yang telah kita anut.

Pentingnya Nilai
·         Nilai itu penting dalam pembelajaran perilaku organisasi karena nilai menjadi dasar dalam memahami sikap dan motivasi serta karena nilai mempengaruhi persepsi kita.
·         Seseorang akan beranggapan bahwa perilaku atau hasil tertentu lebih baik dibanding lainnya. Dan sebagai hasilnya, nilai menutupi objektivitas dan rasionalitas.
·         Nilai umumnya juga mempengaruhi sikap dan perilaku.

Tipe-tipe Nilai
·         Menurut Rokeach Value Survey (RVS) yang dibuat oleh Milton Rokeach ada 2 tipe nilai:
o   Nilai terminal             : keadaan atau tujuan yang diinginkan, contoh: penghargaan diri, kebebasan/kemerdekaan, kesamaan derajat, dsb
o   Nilai instrumental      : perilaku yang diinginkan atau cara-cara yang digunakan untuk mencapai nilai terminal, contoh: jujur, tanggung jawab, ambisius, dsb
·         Beberapa studi menyatakan bahwa nilai RVS berbeda-beda antar kelompok. Contohnya, kelompok eksekutif dibandingkan dengan pekerja dan aktivis masyarakat memiliki perbedaan prioritas nilai terminal, walaupun juga ada beberapa kesamaan.

Kelompok Kerja Kontemporer
Kelompok
Tahun Masuk Kerja
Perkiraan Usia Sekarang
Nilai Kerja Dominan
Veterans
1950 atau awal 1960
>60
Pekerja keras, konservatif; loyal pada organisasi
Boomers
1965 – 1985
40 – 60
Sukses, pencapaian, ambisi, tidak menyukai otoritas; loyal pada karir
Xers
1985 – 2000
25 – 40
Work/life balance, team-oriented, tidak menyukai aturan; loyal pada hubungan
Nexters
2000 - sekarang
<25
Percaya diri, sukses finansial, self-reliant but team-oriented; loyal pada diri sendiri dan hubungan

Nilai, Loyalitas, dan Perilaku Etis
·         Banyak orang berpendapat bahwa masalah mengenai standar etika mulai muncul di akhir tahun 1970an.
·         Standar etika yang menurun mungkin dapat dijelaskan oleh model kelompok kerja yang telah dijelaskan.
·         Selama pertengahan tahun 1970an jajaran manajemen didominasi oleh Veterans yang loyal terhadap pemberi kerja. Jadi ketika dihadapkan dengan dilema etis, mereka membuat keputusan yang kiranya paling baik bagi organisasi mereka. Sementara di awal tahun 1990an sebagian besar manajemen dipegang oleh Boomers. Loyalitas mereka adalah pada karir, fokus mereka adalah mencari “nomer satu”. Nilai yang sangat egois seperti itu tentu menyebabkan penurunan standar etika dan mungkin menjadi penyebab penurunan etika bisnis di akhir tahun 1970an.
·         Berita baiknya adalah Xers sedang dalam proses untuk menempati manajemen atas. Karena loyalitas mereka adalah pada hubungan, maka mereka diperkirakan akan mempertimbangkan implikasi etis pada tindakan-tindakan mereka.

Nilai antar Budaya
Terdapat 2 framework untuk menganalisa budaya:
·         Hofstede’s Framework
Beliau menemukan bahwa manajer dan karyawan bervariasi dalam 5 dimensi dari budaya nasional seperti berikut:
o   Power distance. Derajat dimana masyarakat menerima bahwa kekuatan (power) dalam institusi dan organisasi didistribusikan secara tidak seimbang. Dari seimbang secara relatif (low power distance) sampai tidak seimbang secara ekstrim (high power distance).
o   Individualism versus collectivism. Individualisme adalah derajat dimana masyarakat memilih bertindak sebagai individu dibanding sebagai anggota dalam kelompok. Kolektivisme adalah kecenderungan masyarakat untuk hidup sebagai anggota dalam kelompok.
o   Quantity of life versus quality of life. Quantity of life adalah nilai-nilai seperti uang dan benda-benda materiil serta kemenangan dalam kompetisi. Quality of life adalah penghargaan akan hubungan, sensitivitas dan kepedulian akan orang lain.
o   Uncertainty avoidance. Derajat dimana masyarakat memilih situasi terstruktur dibanding situasi yang tidak terstruktur. Negara dengan high uncertainty avoidance, masyarakatnya memiliki tingkat kekhawatiran yang tinggi.
o   Long-term versus short-term orientation. Masyarakat dengan budaya long-term orientation melihat ke masa depan dan menghargai penghematan dan ketekunan. Sementara short-term orientation menghargai masa lalu dan sekarang serta menghormati tradisi dan memenuhi kewajiban sosial.
·         Kesimpulan:
o   Power distance tinggi, Cina dan Afrika Barat. Power distance rendah, Amerika Serikat dan Belanda.
o   Collectivist, negara-negara di Asia. Individualist, Amerika Serikat tertinggi.
o   Quantity of life tinggi, Jerman dan Hongkong. Quantity of life rendah, Rusia dan Belanda.
o   Uncertainty avoidance tinggi, Perancis dan Rusia. Uncertainty rendah, Hong Kong dan Amerika Serikat.
o   Long-term orientation, Cina dan Hong Kong. Short-term orientation, Perancis dan Amerika Serikat.
·         The GLOBE Framework
The GLOBE (Global Leadership and Organizational Behavior Effectiveness) menyediakan update atas studi yang dilakukan oleh Hofstede. Berikut 9 dimensi yang membedakan budaya nasional:
o   Assertiveness. Sampai dimana lingkungan sosial mengajak masyarakatnya untuk menjadi tangguh, konfrontasional, dan kompetitif versus sederhana dan lembut. Dimensi ini sama dengan quantity of life milik Hofstede.
o   Future orientation. Sampai dimana lingkungan sosial mengajak dan menghargai perilaku seperti planning, investasi, dan gratifikasi. Dimensi ini sama dengan long-term/short-term orientation milik Hofstede.
o   Gender differentiation. Sampai dimana lingkungan sosial membedakan peran gender.
o   Uncertainty avoidance. Sama dengan dimensi Hofstede.
o   Power distance. Sama dengan dimensi Hofstede.
o   Individualism/collectivism. Sama dengan dimensi Hofstede.
o   In-group collectivism. Sampai dimana suatu anggota masyarakat merasa bangga hidup dalam kelompok kecil, seperti keluarga, teman, dan organisasi.
o   Performance orientation. Sampai dimana lingkungan sosial mengajak dan memberi penghargaan terhadap peningkatan kesempurnaan performa.
o   Humane orientation. Sampai dimana lingkungan sosial mengajak dan memberi penghargaan terhadap individu yang bersikap adil, peduli, dan baik terhadap sesama. Sama dengan dimensi quality of life milik Hofstede.
·         Implikasi terhadap Perilaku Organisasi
o   Sebagian besar studi atas perilaku organisasi dilakukan di Amerika dan oleh orang Amerika.
o   Dampaknya:
§  Tidak semua teori dan konsep perilaku organisasi dapat diaplikasikan secara universal untuk mengelola SDM di seluruh dunia
§  Perlu pertimbangan akan nilai-nilai budaya ketika memahami perilaku masyarakat dari negara-negara yang berbeda.

ATTITUDES (SIKAP)
·         Sikap: pernyataan atau penilaian evaluatif menyangkut benda, orang, atau kejadian. Sikap mencerminkan perasaan seseorang tentang sesuatu.
·         Komponen sikap:
o   Kognitif          : bagian dari sikap yang berupa pendapat atau kepercayaan, contoh seseorang berpendapat bahwa diskriminasi adalah salah.
o   Afektif                        : bagian dari sikap yang berupa perasaan atau emosional, contoh “saya tidak suka Budi karena dia diskriminatif.”
o   Perilaku          : kemauan untuk berperilaku secara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu, contoh saya mungkin akan menghindari Budi karena dia diskriminatif.
·         Untuk lebih jelasnya, pengertian sikap dalam pembahasan ini lebih merujuk kepada komponen afektif.
·         Sikap juga berlawanan dengan nilai karena sikap bersifat tidak stabil dan lebih mudah dipengaruhi.

Jenis-jenis Sikap
Dalam pembelajaran perilaku organisasi hanya berfokus pada 3 tipe sikap:
·         Job Satisfaction
o   Merujuk pada sikap seseorang terhadap pekerjaannya.
o   High level – sikap positif, low – level – sikap negatif
o   Seringkali sikap karyawan disama artikan dengan job satisfaction atau kepuasan kerja.
·         Job Involvement
o   Merujuk pada sampai mana seseorang melibatkan diri  dengan pekerjaannya, berpartisipasi secara aktif dalam pekerjaannya, dan membandingkan performanya dengan nilai dirinya.
o   High job involvement berarti memihak terhadap satu pekerjaan saja.
o   High level – lebih sedikit absen dan lebih sedikit pengunduran diri.
·         Organizational Commitment
o   Merujuk pada sampai mana seseorang melibatkan diri dengan organisasi tertentu beserta dengan tujuan-tujuannya dan ingin menjaga keanggotaannya dalam organisasi.
o   High organizational commitment berarti memihak terhadap satu organisasi saja.
o   High level – lebih sedikit absen dan lebih sedikit pengunduran diri.
o   Organizational commitmen merupakan indikator yang lebih baik untuk mengidentifikasi turnover. Salah satu sebabnya adalah seseorang bisa tidak menyukai pekerjaan yang sedang diberikan kepadanya, namun dia berpikir bahwa pekerjaannya mungkin hanya sementara. Dia mungkin tidak menyukai pekerjaannya, namun tetap menyukai organisasi tempat dia bekerja.

Sikap dan Konsistensi
·         Penelitian menunjukkan bahwa orang mencari konsistensi dalam sikapnya dan konsistensi antara sikap dan perilakunya. Ini berarti orang mencoba menyeimbangkan sikap-sikap dan perilaku-perilakunya yang berbeda-beda agar dia tampak rasional dan konsisten.
·         Ketika terjadi inkonsistensi, daya-daya akan digunakan untuk mengembalikan seseorang dalam keadaan seimbang, dimana sikap dan perilakunya akan kembali konsisten. Ini dapat dilakukan dengan cara menyesuaikan sikap atau perilakunya, atau menciptakan rasionalisasi atas ketidaksesuaian yang terjadi.

Cognitive Dissonance Theory
·         Cognitive dissonance: ketidakcocokkan antara 2 atau lebih sikap atau ketidakcocokkan antara sikap dan perilaku
·         Teori cognitive dissonance dikemukakan oleh Leon Festinger di akhir tahun 1950an. Beliau berargumen bahwa segala bentuk inkonsistensi itu tidak nyaman dan seseorang akan berusaha untuk mengurangi dissonance yang  terjadi. Oleh karena itu, seseorang akan mencari keadaan yang stabil dimana dissonance yang ada kecil atau minimum.
·         Festinger mengajukan bahwa keinginan  untuk mengurangi dissonance akan ditentukan oleh:
o   kepentingan dari elemen yang membentuk dissonance.
o   pengaruh yang dimiliki oleh seseorang terhadap elemen yang membentuk dissonance.
o   penghargaan yang mungkin ada dalam dissonance.
·         Jadi, seseorang yang mengalami dissonance belum tentu akan mengubah sikapnya atau mengurangi dissonance yang terjadi. Jika masalahnya tidak penting, lalu dia tidak memiliki pengaruh yang besar atau dia tidak bisa mengkontrol masalah itu, dan tidak ada penghargaan yang sesuai, maka seseorang tidak akan berada dalam tekanan yang besar untuk mengurangi dissonance yang ada.

Mengukur A-B Relationship (Hubungan antara Attitudes (Sikap) dan Behavior (Perilaku)
Kita telah mempelajari bahwa sikap mempengaruhi perilaku, pernyataan ini juga didukung oleh penelitian terdahulu. Namun, di akhir tahun 1960an, ada beberapa studi yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara sikap dan perilaku, atau paling tidak hubungannya rendah.  Penelitian lebih baru lagi menyatakan bahwa sikap sangat menentukan perilaku di masa depan dan meyakinkan pendapat Festinger bahwa hubungan tersebut dapat ditingkatkan dengan cara mengelola beberapa variable.
·         Mengelola Variabel
o   Importance (kepentingan)       : sikap yang dianggap penting cenderung menunjukkan hubungan yang kuat dengan perilaku.
o   Specificity (kejelasan)              : semakin jelas sikap dan perilaku, semakin kuat hubungan di antara keduanya.
o   Accesibility (jangkauan)          : sikap yang mudah dijangkau (diingat) lebih cenderung menentukan perilaku seseorang.
o   Social pressusres (tekanan sosial)       : ketika ada tekanan sosial yang tinggi dalam suatu kelompok, maka seseorang cenderung akan bersikap dan berperilaku seperti yang dilakukan oleh kelompok tersebut.
o   Direct experience (pengalaman langsung)     : hubungan sikap-perilaku jauh lebih kuat jika seseorang memiliki pengalaman langsung dengan suatu sikap tertentu.
·         Self-Perception Theory
o   Self-perception theory: sikap digunakan setelah fakta untuk membuat suatu tindakan yang telah dilakukan menjadi masuk akal
o   Ketika seseorang memiliki pengalaman yang sedikit mengenai suatu sikap atau hanya diberikan sedikit pemikiran ke belakang tentang suatu sikap, maka dia akan cenderung mengambil perilakunya sebagai sikapnya.
o   Ketika seseorang sudah memiliki sikap yang jelas dan telah dibina selama waktu tertentu, maka sikap itu yang akan menentukan perilakunya.


JOB SATISFACTION
Pengertian job satisfaction menurut Robbins and Judge mendefinisikan kepuasan kerja sebagai perasaaan positif tentang pekerjaan sebagai hasil evaluasi karakter-karakter pekerjaan tersebut.



Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Menurut Robbins and Judge ada 21 faktor yang berhubungan dengan kepuasan kerja yaitu:
·         Otonomi dan kebebasan
·         Karier benefit
·         Kesempatan untuk maju
·         Kesempaatan mengembangkan karir
·         Kompensasi atau gaji
·         Komunikasi antara karyawan dan manajemen
·         Kontribusi pekerjaan terhadap sasaran organisasi
·         Perasaan aman di lingkungan kerja\
·         Kefleksibelan untuk menyeimbangkan kehidupan dan persoalan kerja
·         Keamanan pekerjaan
·         Training spesifik pekerjaan
·         Pengakuan manajemen terhadap kinerja karyawan
·         Keberartian pekerjaan
·         Jejaring
·         Kesempatan untuk menggunakan kemampuan atau keahlian
·         Komitmen organisasi untuk pengembangan
·         Budaya perusahaan secara keseluruhan
·         Hubungan sesama karyawan
·         Hubungan dengan atasan langsung
·         Hubungan  dengan pekerjaan itu sendiri
·         Keberagaman pekerjaan

Dampak Kepuasan dan Ketidakpuasan Kerja
·         Produktivitas atau kinerja
Lauler dan Porter mengharapkan produktivitas yang tinggi menyebabkan peningkatan dari kepuasan kerja hanya jika tenaga kerja mempersepsikan bahwa ganjaran internsik dan ekstrinsik yang diterima kedua-duanya adil dan wajar dan diasosiasikan dengan unjuk kerja yang unggul.
·         Ketidakhadiran dan turnover
Menurut Robbins, ketidakpuasan kerja pada tenaga kerja atau karyawan dapat diungkapkan ke dalam berbagai macam cara misalnya selain meninggalkan pekerjaan, karyawan dapat mengeluh, membangkang, mencuri barang milik organisasi, menghindari sebagian dari tanggung jawab pekerjaan mereka

Respon terhadap ketidakpuasan
Dalam suatu organisasi, ketidakpuasan kerja dapat ditunjukkan melalui berbagai cara. Robbins and judge menerangkan ada 4 respon yang berbeda satu sama lain dalam 2 dimensi yaitu konstruktif atau destruktif dan aktif atau pasif. Dengan penjelasan sebagai berikut:
·         Exit, ketidakpuasan ditunjukkan melalui perilaku diarahkan pada meninggalkan organisasi, termasuk mencair posisi baru atau mengundurkan diri
·         Voice, ketidakpuasan ditunjukkan melalui usaha secara aktif dan konstrruktif untuk memperbaiki keadaan, termasuk menyarankan perbaikan, mendiskusikan masalah dengan atasan dan berbagai bentuk aktivitas perserikatan
·         Loyalty, ketidakpuasan ditunjukkan secara pasif tetapi optimistik dengan  menunggu kondisi untuk memperbaiki termasuk berbicara bagi organisasi di hadapan kritik eksternal dan mempercayai organisasi dan manajemen melakukan hal yang benar
·         Neglect, ketidakpuasan ditunjukkan melalui tindakan secara pasif membiarkan kondisi semakin buruk, termasuk kemangkiran atau keterlambatan secara kronis, mengurangi usaha dan meningkatkan tingkat kesalahan





Tidak ada komentar:

Posting Komentar