Dorongan untuk Berubah
·
Sifat tenaga kerja: budaya yang
lebih beragam, populasi yang semakin menua, peningkatan imigrasi dan outsourcing.
·
Teknologi: komputer dan telepon
genggam yang lebih cepat, murah, dan lebih mobile
serta kemunculan dan pertumbuhan
situs-situs jaringan sosial.
·
Economic
shocks: naik dan turunnya pasar global, hancurnya sektor keuangan,
resesi global.
·
Kompetisi: kompetitor global, merger dan konsolidasi, meningkatnya
peraturan pemerintah mengenai bisnis
·
Tren sosial: meningkatnya kesadaran
lingkungan, kebebasan bersikap terhadap karyawan gay, lesbian, dan transgender.
·
Politik dunia: meningkatnya biaya
kesehatan, sikap sosial negatif terhadap bisnis dan eksekutif, pembukaan
pasar-pasar di China.
Perubahan Terencana
Definisi: tindakan perubahan yang diinginkan dan berorientasi
tujuan.
Sumber Halangan akan
Perubahan
·
Sumber individu
o
Kebiasaan.
Untuk menyesuaikan dengan kompleksitas kehidupan, kita bergantung pada
kebiasaan atau respon-respon yang terprogram. Namun ketika dihadapkan pada
perubahan, kecenderungan untuk merespon perubahan dalam cara yang sudah
terbiasa ini menjadi sumber halangan.
o
keamanan.
Orang dengan kebutuhan tinggi akan keamanan cenderung melawan perubahan karena
mengancam perasaan aman mereka.
o
Faktor
ekonomi. Perubahan dalam tugas kerja atau rutinitas kerja
dapat menimbulkan ketakutan ekonomi jika orang menganggap bahwa mereka tidak
akan dapat mengerjakan tugas atau rutinitas baru, terutama jika gaji
berhubungan erat dengan produktivitas.
o
Ketakutan
akan hal yang tidak diketahui. Perubahan
menyebabkan ambiguitas dan ketidakpastian akan hal yang tidak diketahui.
o
Proses
informasi selektif. Individu mendengarkan apa yang mereka ingin dengar
dan mengabaikan informasi yang menantang dunia yang telah mereka buat.
·
Sumber organisasional
o
Kelembaman
struktural. Organisasi memiliki mekanismen yang sudah tertanam
untuk menghasilkan stabilitas. Ketika organisasi dihadapkan pada perubahan,
kelembaman struktural ini bertindak sebagai penangkal untuk menjaga stabilitas.
o
Fokus
perubahan terbatas. Organisasi terdiri dari susbsistem yang saling
tergantung. Satu subsistem tidak dapat dirubah tanpa mempengaruhi subsistem
lainnya. Jadi perubahan terbatas dalam subsistem biasanya dinetralkan oleh
sistem yang lebih besar.
o
Kelembaman
kelompok. Walaupun individu ingin merubah perilaku mereka,
norma kelompok dapat bertindak sebagai penghalang.
o
Ancaman
kepada ahli. Perubahan dalam pola organisasional dapat mengancam
ahli dari kelompok-kelompok terspesialisasi.
o
Ancaman
kepada hubungan kekuatan yang telah terbentuk. Pembagian
ulang kewenangan pembuatan keputusan dapat mengancam hubungan kekuatan dalam
organisasi yang telah lama dibentuk.
Pendekatan untuk Mengelola
Perubahan Organisasional
·
Model tiga-langkah Lewin

Unfreezing status quo

·
Rencana delapan-langkah Kotter
untuk mengimplementasi perubahan
1.
Membentuk rasa kepentingan dengan
menciptakan alasan yang memaksakan mengapa perubahan itu perlu.
2.
Membentuk koalisi dengan kekuatan
yang cukup untuk memimpin perubahan.
3.
Membuat visi baru untuk mengarahkan
perubahan dan strategi untuk mencapai visi tersebut.
4.
Mengkomunikasikan visi ke seluruh
bagian dalam organisasi.
5.
Menguatkan orang lain untuk
bertindak sesuai visi dengan menghilangkan halangan untuk berubah dan mendukung
pengambilan resiko dan pemecahan masalah secara kreatif.
6.
Merencanakan, membuat, dan
menghargai “kemenangan” jangka pendek yang membawa organisasi menuju visi baru.
7.
Mengkonsolidasi peningkatan,
meninjau ulang perubahan, dan membuat penyesuaian yang diperlukan dalam
program-program baru.
8.
Memperkuat perubahan dengan
mendemonstrasikan hubungan antara perilaku baru dan keberhasilan
organisasional.
·
Penelitian tindakan
1.
Diagnosa. Agen perubahan mengumpulkan
informasi mengenai masalah dan perubahan yang dibutuhkan dari anggota dalam
organisasi.
2.
Analisa. Agen perubahan
mengelompokkan informasi tersebut menjadi perhatian utama, area masalah, dan
tindakan-tindakan yang mungkin dilakukan.
3.
Umpan balik. Karyawan dengan
bantuan agen perubahan membuat rencana tindakan yang dibutuhkan untuk melakukan
perubahan.
4.
Tindakan. Karyawan dan agen
perubahan melakukan tindakan-tindakan tertentu yang telah ditentukan untuk
memperbaiki masalah.
5.
Evaluasi. Mengevaluasi efektivitas
rencana tindakan menggunakan data awal yang terkumpul sebagai perbandingan.
·
Pengembangan organisasional
o
Pelatihan
sensitivitas. Kelompok pelatihan yang mencari perubahan perilaku
melalui interaksi kelompok yang tidak terstruktur.
o
Survei
umpan balik. Menggunakan kuesioner untuk mengidentifikasi
ketidakcocokan di antara persepsi para anggota; diikuti oleh diskusi dan
perbaikan diusulkan.
o
konsultasi
proses. Pertemuan dimana konsultan membantu klien dalam
memahami kejadian proses yang harus ditanganni dan mengidentifikasi proses yang
dibutuhkan untuk peningkatan.
o
Pembangunan
tim. Interaksi tingkat tinggi di antara anggota tim untuk
meningkatkan kepercayaan dan keterbukaan.
o
Pengembangan
antar kelompok. Upaya untuk merubah sikap, stereotipe, dan persepsi
yang dimiliki oleh tiap kelompok.
o
Penyelidikan
apresiatif. Pendekatan yang berusaha mengidentifikasi kualitas
unik dan kekuatan spesial dari organisasi, dimana nantinya bisa dibentuk untuk
meningkatkan kinerja.
Membentuk Budaya untuk Perubahan
·
Menstimulasi budaya inovasi
Organisasi
yang inovatif secara aktif memberi pelatihan dan pengembangan anggota mereka
agar tetap sesuai dengan masa kini, menawarkan keamanan kerja yang tinggi
sehingga karyawan tidak takut untuk dipecat karena membuat kesalahan, dan
mendukung individu untuk menjadi pemenang dari perubahan.
·
Menciptakan organisasi pembelajaran
o
Membuat
strategi. Manajemen perlu menyatakan secara gamblang mengenai
komitmen mereka akan perubahan, inovasii, dan peningkatan berkelanjutan.
o
Mendesain
ulang struktur organisasi. Meratakan struktur, menghilangkan
atau menggabungkan departemen, dan meningkatkan penggunaan tim lintas
fungsional memperkuat saling ketergantngan dan mengurangi batasan.
o
Membentuk
ulang budaya organisasi. Manajer harus menunjukkan melalui
tindakan mereka bahwa mengambil resiko dan mengakui kesalahan adalah tindakan
yang patut dilakukan. Manajemen juga perlu untuk mendukung konflik fungsional
untuk mengangkat keterbukaan dalam pekerjaan.