Senin, 24 Maret 2014

PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pengambilan keputusan adalah unsur yang paling penting dalam kehidupan berorganisasi. Dalam mengambil sebuah keputusan diperlukan beberapa proses, salah satunya adalah persepsi. Persepsi merupakan proses yang digunakan individu mengelola dan menafsirkan kesan indera mereka dalam rangka memberikan makna kepada lingkungan mereka. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap kenyataan obyektif.

Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Pelaku persepsi atau pemersepsi
Karakteristik pelaku yang mempengaruhi persepsi adalah: sikap, motif, kepribadian, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan pengharapan.Pelaku persepsi sangat mempengaruhi suatu penafsiran ketika individu memandang ke obyek tertentu dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya. Contohnya, perwira polisi atau jenderal TNI harus memiliki wibawa.
Obyek atau target yang dipersepsikan
Karakteristik obyek yang dapat mempengaruhi persepsi adalah: hal baru, gerakan, bunyi, ukuran, latar belakang, dan kedekatan.
Situasi
Karakteristik situasi yang dapat mempengaruhi persepsi adalah waktu, keadaan/tempat kerja, dan keadaan sosial.

Teori Persepsi
Teori Atribusi
Pada dasarnya, teori ini mengemukakan bahwa ketika individu-individu mengamati perilaku, mereka berupaya menetukan apakah perilaku itu disebabkan oleh faktor internal atau faktor eksternal.
Ada beberapa teknik yang digunakan untuk memudahkan pengelolaan tugas untuk mempersepsi dan menafsirkan orang lain, yaitu :
Persepsi selektif
Orang secara selektif menafsirkan apa yang mereka lihat atas dasar kepentingan, latar belakang, pengalaman, dan sikap mereka.
Efek halo
Individu menarik kesan umum mengenai individu lain berdasarkan karakteristik tunggal seperti kecerdasan, kemampuan bergaul, atau penampilan.
Efek kontras
Evaluasi terhadap karakteristik-karakteristik seseorang yang terpengaruh oleh perbandingan-perbandingan orang lain yang baru masuk yang berperingkat lebih tinggi atau lebih rendah berdasar karakteristik yang sama.
Proyeksi
Orang yang terlibat proyaksi cenderung mempersipkan orang lain menurut seperti apa diri mereka sendiri bukannya menurut keadaan senyatanya.
Membuat Stereotipe
Menilai seseorang berdasarkan persepsi kita terhadap kelompok di mana orang itu tergabung.

Penerapan Khusus dalam Organisasi
Wawancara Karyawan
Masukan yang besar bagi masalah siapa yang akan di pekerjakan dan siapa ditolak dalam setiap organisasi adalah masukan dari wawancara karyawan. Umumnya  para pewawancara menarik kesimpulan dini yang menjadi keyakinan yang terlalu cepat. Penelitian menunjukkan bahwa keputusan sebagian besar pewawancara sangat sedikit berubah setelah empat atau lima menit pertama wawancara itu.
Pengharapan Kinerja
Terdapat sangat banyak bukti yang menunjukkan bahwa  orang-orang akan berupaya untuk mensahihkan persepsi mereka terhadap realitas, meskipun persepsi ini keliru. Istilah kecenderungan terjadinya apa yang dipikirkan (self-fulfilling prophecy) atau efek pigmalion  berkembang untuk mencirikan kenyataan bahwa perkiraan orang menentukan perilaku mereka.
Evaluasi Kinerja
Penilaian kinerja karyawan sangat bergantung pada proses persepsi. Sejauh mana para manajer menggunakan ukuran subyektif dalam menilai karyawan, serta apa yang dipersepsikan oleh penilai sebagai karakteristik atau perilaku karyawan yang baik atau buruk akan secara signifikan mempengaruhi hasil penilaian itu.
Upaya Karyawan
Masa depan individu dalam organisasi biasanya tidak bergantung pada kinerja saja. Dalam banyak organisasi, tingkat upaya karyawan dinilai sangat penting.

Hubungan Antara Persepsi dan Pengambilan Keputusan Individu
Pengambilan keputusan individu merupakan bagian penting dari perilaku organisasi. Tetapi cara invidu-individu dalam organisasi mengambil keputusan dan kualitas dari pilihan terakhir mereka sebagian besar dipengaruhi oleh persepsi-persepsi mereka.

Bagaimana Keputusan Hendaknya Diambil?
Proses Pengambilan Keputusan Rasional
Model Rasional
Mendefinisi masalah
Mengidentifikasi kriteria keputusan
Mengalokasikan bobot terhadap kriteria
Mengembangkan alternatif
Mengevaluasi alternatif
Memilih alternatif terbaik
Asumsi Model
Kejelasan masalah
Pilihan-pilihan yang diketahui
Pilihan yang jelas
Pilihan yang konstan
Tidak ada batasan waktu atau biaya
Hasil keputusan maksimum
Meningkatkan Kreativitas dalam Pengambilan Keputusan
Potensi Kreatif
Sebagian besar orang mempunyai potensi kreatif yang dapat mereka gunakan bila dihadapkan pada satu masalah pengambilan-keputusan. Orang mempunyai perbedaan dalam kreativitas bawaan mereka.
Model Kreativitas Tiga Komponen












Bagaimana Keputusan Sebenarnya Diambil Dalam Organisasi?
Rasionalitas Terbatas (Bounded Rationality)
Ketika dihadapkan pada masalah kompleks sebagian besar orang menanggapi dengan mengurangi masalah sampai sampai pada level di mana masalah itu dapat dipahami.
Hal  itu terjadi karena keterbatasan kemampuan manusia dalam mengolah informasi yang membuat dia tidak mungkin mengasimilasi dan memahami semua informaasi yang diperlukan untuk optimalisasi.
Pengambilan keputusan akan dilakukan terhadap daftar terbatas yang tersusun atas pilihan yang mencolok saja. Pengambilan keputusan selanjutnya untuk mengkaji alternatif hingga ia memilih alternatif yang baik,sehinga solusi akhir lebih mencerminkan pilihan yang memuaskan, bukannya pilihan yang optimal.
Intuisi
Kapan orang kemungkinan paling besar mengunakan keputusan intuitif?
Bila terdapat ketidakpastian variabel yang tinggi
Bila hanya ada sedikit pilihan yang bisa diikuti
Bila variabel kurang dapat diperkirakan secara ilmiah
Bila terdapat keterbatasan fakta
Bila fakta tidak dengan jelas menunjukkan jalan yang ditempuh
Bila data kurang berguna
Bila terdapat beberapa penyelesaian alternatif yang masuk akal dipilih dengan alasan yang baik
Bila waktu terbatas dan terdapat tekanan untuk segera mengambil keputusan yang tepat
Orang orang dengan kemampuan intuitif yang kuat biasanya tidak mengatakan kepada rekan mereka bagaimana mereka sampai pada kesimpulan karena analisis rasional dianngap lebih diinginkan secara social,kemampuan intutif sering tersamar atau tersembunyi
Identifikasi Masalah
Masalah-masalah yang mudah dilihat cenderung berkemungkinan lebih besar untuk dipilih dibanding dengan masalah yang penting.
Para pengambil keputusan ingin terlihat kompeten dan mampu mengatasi masalah. Ini memotivasi mereka untuk memusatkan perhatian pada masalah yang tampak. Biasanya pengambil keputusan sangat berminat untuk menyelesaikan masalah-masalah bergengsi
Pengembangan Alternatif
Karena para pngambil keputusan jarang mencari pemecahan yang optimal melainkan pemecahan masalah yang lebih memuaskan ,kita dapat memperkirakan terjadinya penggunaan minimal atas kreativitas dalam mencari alternatif
Pembuatan Pilihan
Untuk menghindari kelebihan beban informasi para pengambil keputusan mengandalkan heuristic atau jalan pintas penilaian. Dalam pengambilan keputusan terdapat 2 kategori heuristik:
Heuristik Ketersediaan
Kecenderungan orang untuk mendasari penilaian informasi yang sudah ada ditangan mereka.
Heuristik Representatif
Menilai kemungkinan kejadian dengan mengambarkan analogi-analogi dan melihat situasi secara identik dimana di situ sebenarnya tidak terdapat keidentikan.

Perbedaan Individu: Gaya Pengambilan Keputusan


Hambatan Organisasi
Evaluasi Kinerja pengambilan keputusan para manajer sangat dipengaruhi oleh kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi mereka.
Sistem Imbalan organisasi mempengaruhi pengambilan keputusan dengan menyatakan ke mereka pilihan apa yang lebih bermanfaat bagi diri pribadi.
Aturan Formal, hampir semua organisasi menciptakan peraturan kebijakan, prosedur, dan regulasi formal lainnya dalam rangka membakukan prilaku anggota mereka.
Pembatasan Waktu yang Diberlakukan Sistem, organisasi-organisasi memberlakukan tenggat waktu atas keputusan-keputusan. Banyak keputusan harus dengan cepat dibuat supaya dapat tetap menjadi yang terdepan dalam persaingan dan menjaga kepuasan pelanggan. Hampir semua keputusan penting muncul dengan tenggat waktu yang eksplisit. Kondisi-kondisi ini menciptakan tekanan waktu pada  pengambilan keputusan dan sering mempersulit, bahkan tidak mungkin untuk mengumpulkan semua informasi yang mungkin mereka ingin dapatkan sebelum menjatuhkan pilihan terakhir.
Preseden-Preseden Historis, keputusan-keputusan yang diambil pada masa lalu merupakan arwah yang terus-menerus membayangi pilihan saat ini. Oleh karena itu, pilihan-pilihan yang diambil dewasa ini, umumnya merupakan hasil dari pilihan yang diambil dalam beberapa tahun lalu.
Perbedaan Budaya, kita perlu mengakui bahwa latar belakang budaya pengambil keputusan dapat membawa pengaruh besar terhadap: pemilihan masalah, kedalaman analisis, arti penting yang ditempatkan pada logika dan rasionalitas, atau apakah keputusan organisasi hendaknya diambil secara otokratis oleh masing-masing manjaer atau secara kolektif dalam kelompok.

Tiga Kriteria Keputusan Etis
Utilitarian, keputusan-keputusan yang dibuat untuk memberikan manfaat terbesar bagi jumlah terbesar.
Menekankan ke Hak, menuntut individu untuk mengambil keputusan yang konsisten dengan kebebasan dan keistimewaan mendasar seperti dikemukakan dalam dokumen-dokumen seperti piagam hak asasi. Tekanan pada hak dasar para individu, misalnya hak privasi, kebebasan berbicara dan hak perlindungan.
Berfokus pada Keadilan, mensyaratkan individu untuk memberlakukan dan mengakkan aturan-aturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga terdapat pembagian manfaat dan biaya yang pantas.

Persepsi
Individu berperilaku dengan cara tertentu yang didasarkan tidak pada cara lingkungan luar yang sebenarnya tetapi lebih pada apa yang mereka lihat atau yakini. Kegagalan untuk menangani perbedaan-perbedaan sewaktu individu mempersepsikan pekerjaan secara negatif akan mengakibatkan peningkatan keabsenan dan pengunduran diri serta mengurangi kepuasan kerja.

Pengambilan Keputusan Individu
Apa yang dapat dilakukan para manajer untuk memperbaiki pengambilan keputusan mereka?
Analisislah Situasi, sesuaikan gaya pengambilan keputusan terhadap kebudayaan nasional dimana anda beroperasi dan terhadap kriteria yang dinilai dan diberi imbalan oleh organisasi anda.
Pahamilah Bias, kita semua membawa bias ke keputusan yang kita ambil. jika anda memahami prasangka-prasangka yang mempengaruhi penilaian anda, maka anda dapat mulai mengubah cara anda mengambil keputusan untuk mengurangi bias-bias tersebut.
Kombinasikanlah Analisis Rasional dengan Intuisi dengan menggunakan keduanya, anda sungguh dapat memperbaiki efektivitas pengambilan keputusan.
Jangan Mengasumsikan bahwa Gaya Pengambilan spesifik anda cocok untuk setiap pekerjaan seperti kenyataan bahwa setiap organisasi berbeda,demikian juga dengan pekerjaan-pekerjaan dalam organisasi. dan efektivitas anda sebagai pengambil keputusan akan meningkat jika anda mencocokkan gaya keputusan anda dengan tuntutan jabatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar